Posted on 10.04 In:
The Australian Ingatkan Bahaya Website Hizbut Tahrir Indonesia dalam Perang Ideologi Melawan Kapitalisme Media The Australian (11/12) memuat artikel yang mengingatkan kemenangan dalam perang ideology merupakan kunci kemenangan dalam menghadapi kelompok Islam yang ingin memperjuangkan syariah dan Khilafah. Dalam artikel yang provokatif yang berjudul Islamists must be prevented from brainwashing kids , penulis melakukan kebohongan dengan mengkaitkan upaya penegakan syariah dan Khilafah sebagai tindakan terorisme . Kemudian dibangun logika untuk menang dalam perang melawan teroris ini adalah dengan mengalahkan ideologynya. Dalam Artikel yang ditulis Carl Ungerer ( director of national security at the Australian Strategic Policy Institute) tersebut dinyatakan : Agar suatu ideologi berkembang , ideolagi itu harus terus mencari anggota-anggota baru. Pada saat sebuah organisasi teroris generasi baru terbentuk, masyarakat internasional tampak tidak mampu lagi merespons secara komprehensif, dengan cara yang strategis.Untuk saat ini, perang global melawan teror telah terbagi antara 95 persen operasi militer dan 5 persen operasi ideologis. Hal itu harus dibalik, karena memenangkan perang ideologi lah yang akhirnya akan menentukan apakah kita berhasil atau gagal melawan gelombang terorisme keagamaan saat ini. Artikel ini juga secara khusus menulis tentang Hizbut Tahrir Indonesia. Meskipun diakui sendiri oleh penulis Hizbut Tahrir tidak menggunakan kekerasan dalam perjuangannya , penulis mengingatkan Hizbut Tahrir sebagai ancaman karena perjuangan ideologinya. Tertulis dalam artikel tersebut : Jumlah serangan teroris di seluruh dunia mungkin telah berkurang, tetapi ideologi korosif yang mendorong terorisme internasional terus memperoleh dukungan dari mulai Somalia hingga ke Filipina selatan. Dan fokus cuci otak ideologis ini semakin diarahkan kepada anak-anak. Di Indonesia, kelompok Islam radikal Hizbut Tahrir memfokuskan perhatiannya pada sekolah-sekolah, menyediakan bahan bacaan dan instruksi-instruksi yang menganjurkan para remaja ikut menggulingkan demokrasi sekuler dan diterapkannya Hukum Islam dan Khilafah. Meskipun organisasi-organisasi seperti itu berhenti untuk tidak mempromosikan kekerasan, hubungan radikalisasi antara propaganda dan terorisme telah menjadi mapan.Seperti memperluas cakupan internet, begitu juga cakupan luas dari pesan-pesan ekstrim. Artikel tersebut juga menyatakan bahaya website Hizbut Tahrir Indonesia yang mampu bersaing dengan organisasi berita global : Hizbut Tahrir Indonesia mengelola sebuah website yang canggih yang mampu bersaing dengan organisasi berita global. Remaja adalah pengguna terbesar internet, dan situs-situs jaringan sosial interaktif menyediakan kelompok teroris peluang-peluang baru untuk merekrut dan meradikalisasi mereka. Tuduhan terhadap HT sebagai pengemban ideologi perantara atau pemberi inspirasi bagi tindakan terorisme juga sangat lemah. Tidak ada uraian yang jelas dan detail, pandangan ideologi mana dari HT yang melegalkan penggunaan kekerasan dalam perjuangannya menegakkan Khilafah dan syariah. Kalau dikatakan memberikan inspirasi, ini juga jelas sangat kabur. Kalau setiap yang memberikan inspirasi disebut teroris, mestinya AS-lah yang paling layak disebut teroris karena sangat banyak aksi kekerasan merupakan reaksi dari kebijakan AS yang menindas di Dunia Islam. Artinya, AS bisa dianggap telah memberikan inspirasi bagi tumbuhnya kelompok-kelompok yang melakukan perlawanan terhadap Amerika seperti yang terjadi di Irak saat ini. Bukankah perlakuan kejam tentara AS di Penjara Guantanamo dan pembunuhan oleh tentara AS terhadap rakyat sipil di Irak, Afganistan dan lainnya adalah di antara faktor yang menimbulkan perlawanan terhadap AS? Tidak hanya di luar negeri, upaya pengaitan HT dengan terorisme juga dilakukan di dalam negeri. Mantan Kepala BIN AM Hendropriyono dalam wawancara dengan TVOne (29/7/2009) berusaha mengaitkan terorisme dengan apa yang dia sebut sebagai wahabi radikal. Menurutnya, wahabi radikal merupakan lingkungan yang cocok (habitat) bagi terorisme. Hendropriyono lantas menyebut keterkaitan wahabi radikal dengan Hizbut Tahrir dan Ikhwanul Muslimin. Semua tudingan itu tentu tidak benar. Hizbut Tahrir, dengan tetap menegaskan tentang kewajiban jihad untuk mengusir penjajah Barat dari negeri-negeri Muslim seperti Irak dan Afganistan serta Palestina, dan keutamaan mati syahid, telah menyatakan bahwa garis perjuangannya tidaklah dengan menggunakan kekerasaan/angkat senjata (non violence). Hal ini bisa dilihat secara terbuka dalam buku-buku rujukan HT seperti kitab Ta’rîf (Mengenal HT) atau Manhaj Hizb at-Tahrîr fî Taghyîr (Strategi Hizbut Tahrir untuk Perubahan). Hizbut Tahrir dalam hal ini berkeyakinan, bahwa jalan menuju cita-cita harus dimulai dari perubahan pemikiran, serta menyakini bahwa masyarakat tidak dapat dipaksa untuk berubah dengan kekerasan dan teror. Karena itu, garis perjuangan Hizbut Tahrir sejak berdiri hingga seterusnya adalah tetap, yaitu bersifat fikriyah (pemikiran), siyâsiyah (politik) dan wa la ‘unfiyyah (non-kekerasan). Prinsip ini dibuktikan di sepanjang aktivitasnya lebih dari 50 tahun sejak berdiri, HT tidak pernah sekalipun tercacat menggunakan kekerasan meskipun banyak penguasa yang bersikap represif terhadapnya. Dalam wawancara dengan Al-Jazeera, 17 Mei 2005, Craig Murray, mantan Duta Besar Inggris untuk Uzbekistan, mengatakan, “Hizbut Tahrir merupakan organisasi yang betul-betul tanpa kekerasan.” Soal penolakan HT terhadap kekerasan juga diakui oleh Jean-Francois Mayer, seorang penulis asal Switzerland dan sekaligus pengamat aliran-aliran agama modern, dalam makalah berjudul, “Akankah Hizbut Tahrir Menjadi al-Qaeda di Masa Mendatang?”, yang di publikasikan pada 08/09/2003 M, melalui kantor berita Roozbalt. Di situ ia menulis, “Dapat ditegaskan bahwa Hizbut Tahrir bukanlah gerakan perdamaian. Akan tetapi, pada fase ini Hizbut Tahrir tidak menggunakan kekerasan dalam berbagai aktivitasnya meskipun kritiknya dan seruannya sangat ekstrem. Sungguh amat mengherankan, banyak anggotanya yang benar-benar dapat mengontrol emosinya meskipun tekanan semakin bertambah.” Walhasil, upaya mengkaitkan Hizbut Tahrir dengan kekerasan merupakan upaya sia-sia yang penuh kebohongan dari Barat. Penyebabnya hanya satu , karena Hizbut Tahrir ingin menegakkan kembali syariah Islam dan Khilafah. Barat sangat mengerti Syariah dan Khilafah akan menghentikan penjajahan Barat di dunia Islam yang selama ini mereka eksploitasi. Syariah Islam juga akan menyelesaikan persoalan umat Islam di dunia bahkan manusia secara keseluruhan , yang akan membuat kapitalisme sebagai ideology busuk akan ditinggalkan manusia. Khilafah juga akan mempersatukan umat Islam diseluruh dunia dan membebaskan negeri-negeri Islam yang dijajah. Semua ini jelas sangat menakutkan bagi Barat sang Penjajah , tapi disisi lain akan membebaskan negeri Islam dari penjajahan Barat yang buas dan mengerikan (FW)

AKSI HTI Chapter Kampus Surabaya

Posted on 11.12 In:
Ahad, 6 Desember 2009, HTI Chapter Kampus Surabaya menggelar Aksi terkait Skandal Bank Century. Aksi ini diikuti +300 massa, dari kampus ITS, UNESA, IAIN, UNAIR, ITATS, dll. Aksi yang dilakukan di depan Gedung Grahadi ini diisi orasi oleh Ust. Arif Firmansyah (Dosen FE Unair), Ust. Fikri Arsyad (Ketua DPD Kota Surabaya), diselingi Teatrikal gabungan dari berbagai kampus, dan dilanjutkan orasi oleh Ahsan (Chapter IAIN) Dalam Orasinya Ust arif Firmansyah dosen FE Unair menyatakan : “Kasus Century ini bukan lagi kebijakan, tetapi adalah perampokan oleh negara. Hal ini adalah konsekuensi Washington Consensus yang mengharuskan negara melindungi kepentingan swasta walaupun harus dengan “merampok” uang rakyat. Kasus-kasus seperti ini akan muncul lagi selama Kapitalisme, Neo Liberalisme masih bercokol dan satu-satunya solusi adalah dengan mengganti sistem yang ada dengan syariah dalam bingkai negara Khilafah yang akan menerapkan ekonomi Islam yang mampu menjaga hak ummat dan menjamin kesejahteraannya”. Teartikal dengan tema “Cent to RI” hanya satu sen untuk rakyat Indonesia, menggambarkan betapa tidak amanah dan korupnya rezim, dimana untuk kepentingan rakyat banyak mereka lamban dan pelit untuk mengeluarkan dana yang sejatinya adalah hak umat, tetapi untuk kepentingan kapitalis mereka ramai dan bersegera membantu problem mereka, walaupun itu harus dilakukan dengan merampok dan melakukan kebohongan publik. Aksi akhiri dengan dengan pembacaan Pres Release oleh Ust. Alvin Ketua LTJ DPD HTI Kota Surabaya.

Teorisme Bukan Jihad

Posted on 10.31 In:
Terorisme Bukan Jihad Oleh Hanif Kristianto, S.Pd*) Peristiwa pengeboman di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton (17 Juli 2009) membuat negeri ini bergejolak lagi. Masih teringat di benak masyarakat Indonesia bahwa aksi tersebut merupakan aksi terror. Tidak dapat dipungkiri tuduhan-tuduhan miring terkait aksi terror dialamatkan pada Jamaah Islamiyah (JI). Tuduhan tersebut tidak hanya berimbas pada JI, namun juga bagi kaum muslim seluruhnya. Bisa dibayangkan pesantren, santri, dan gerakan Islam mulai diawasi oleh pihak keamanan. Hal ini tentu menunjukkan seolah-oleh mereka (pesantren, santri, dan gerakan Islam) adalah teroris. Padahal mereka tidak pernah mengajarkan teror dan kekerasan. Tudingan jika mereka gerakan teroris merupakan salah alamat. Siapa Teroris Sejati? Nampaknya, perlu dikaji ulang siapa yang layak disebut teroris. Jika dilihat peristiwa pembunuhan massal kaum muslim oleh pasukan Amerika di Irak, Afganistan, dan negeri lainnya merupakan tindakan terorisme. Pembunuhan dan pembantaian kaum muslim di Palestina juga tindakan terorisme. Yang menjadi pertanyaan, kenapa mereka (Amerika, Israel, dan sekutunya) tidak disebut terorisme. Ini sungguh tidak adil. Bahkan masyarakat dunia pun seolah diam ketika melihat pembunuhan kaum muslimin. Semenjak peristiwa keruntuhan WTC 9 September 2001, Amerika mulai menggunakan stilah war on terorism (WOT) untuk memerangi teroris. Bukti nyata dapat dilihat pada penyerangan Taliban di Afganistan, pemberantasan gerakan Islam di Pakistan dan Kashmir. Hal ini tentu menunjukkan seolah-olah Amerika polisi dunia yang sanggup memerangi terorisme. Isu WOT nampaknya didukung oleh negara-negara lain. Negara yang mendukung merupakan negara yang dilanda konflik terkait dengan tindakan pengeboman. Indonesia merupakan salah satu negara yang turut andil dalam WOT. Wujud dukungan Indonesia adalah dibuatkan UU Antiteror. Intelejen indonesia disebar di berbagai tempat untuk memantau kegiatan kaum muslim. Bahkan yang lebih mencenganggkan, intelejen asing dengan mudah masuk wilayah Indonesia. Umat Islam seharusnya sadar dan paham bahwa sesungguhnya isu WOT digunakan oleh Amerika dan sekutunya untuk memerangi umat Islam. Tidak ada tujuan lain, selain ingin memerangi Islam. Mendefinisikan Jihad Ada semacam rencana untuk mendistorsi makna jihad setelah peristiwa pengeboman. Jika yang terjadi demikian, hal ini merupakan penyesatan informasi. Secara bahasa, jihad berasal dari kata juhd (jerih payah), yang bermakna thâqah (kemampuan) dan matsaqah (kesukaran). Dari kata juhd juga dibentuk kata mujâhadah. Karena itu, secara bahasa jihâd/mujâhadah bermakna: 1. Mengerahkan kemampuan dan tenaga yang ada, baik dengan perkataan maupun perbuatan (Fayruz Abadi, Kamus Al-Muhîth, kata ja-ha-da.) 2. Mengerahkan seluruh kemampuan untuk memperoleh tujuan (An-Naysaburi, Tafsîr an-Naysâbûrî, XI/126). Di dalam al-Quran jihad dalam makna bahasa ini terdapat, antara lain, dalam (QS al-Ankabut [29]: 69), (QS al-Furqan [25]: 52), (QS al-Furqan [25]: 52) Makna bahasa yang terdapat di dalamnya adalah mujâhadah (perang) terhadap hawa nafsu, setan, dan kefasikan; keberanian menegur keras para penguasa dengan cara menyerunya dan melarangnya; serta kesungguhan dalam mengerahkan segenap kemampuan dalam menunaikan kewajiban-kewajiban atau dalam menjaga taklif-taklif (beban) syariah. Adapun dalam pengertian syar‘î (syariat), para ulama dan ahli fikih (fuqaha) mendefinisikan jihad sebagai: 1. Upaya mengerahkan segenap kemampuan dalam berperang di jalan Allah secara langsung, atau membantunya dengan harta, dengan (memberikan) pendapat/pandangan, dengan banyaknya orang maupun harta benda, ataupun yang semisalnya. 2. Upaya mengerahkan segenap jerih payah dalam memerangi kaum kafir. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa secara syar‘i, jihad dimaknai dengan al-qitâl (perang), yakni perang dalam rangka meninggikan kalimat Allah. Bahkan itulah yang disebut dengan jihad yang sebenarnya. Di dalam al-Quran, jihad dalam pengertian perang ini terdiri dari 24 kata. (Lihat Muhammad Husain Haikal, Al-Jihâd wa al-Qitâl. I/12). Kewajiban jihad (perang) ini telah ditetapkan oleh Allah SWT dalam al-Quran di dalam banyak ayatnya. (Lihat, misalnya: QS an-Nisa' 4]: 95); QS at-Taubah [9]: 41; 86, 87, 88; QS ash-Shaf [61]: 4). Bahkan jihad (perang) di jalan Allah merupakan amalan utama dan agung yang pelakunya akan meraih surga dan kenikmatan yang abadi di akhirat. (Lihat, misalnya: QS an-Nisa’ [4]: 95; QS an-Nisa’ [4]: 95; QS at-Taubah [9]: 111; QS al-Anfal [8]: 74; QS al-Maidah [5]: 35; QS al-Hujurat [49]: 15; QS as-Shaff [61]: 11-12. Sebaliknya, Allah telah mencela dan mengancam orang-orang yang enggan berjihad (berperang) di jalan Allah (Lihat, misalnya: QS at-Taubah [9]: 38-39; QS al-Anfal [8]: 15-16; QS at-Taubah [9]: 24). Jihad Defensif dan Jihad Ofensif Dengan menganalisis nash-nash al-Quran maupun as-Sunnah, jihad dalam pengertian perang (al-qitâl) terdiri dari dua macam: (1) Jihad defensif (difâ‘i); (2) Jihad ofensif (hujûmi). Pertama: jihad defensif, yakni perang untuk mempertahankan/membela diri. Jihad ini dilakukan manakala kaum Muslim atau negeri mereka diserang oleh orang-orang atau negara kafir. Contohnya adalah dalam kasus Afganistan dan Irak yang diserang dan diduduki AS sampai sekarang, juga dalam kasus Palestina yang dijajah Israel. Dalam kondisi seperti ini, Allah SWT telah mewajibkan kaum Muslim untuk membalas tindakan penyerang dan mengusirnya dari tanah kaum Muslim. (Lihat, antara lain: QS al-Baqarah 190). Jihad defensif ini juga dilakukan manakala ada sekelompok komunitas Muslim yang diperangi oleh orang-orang atau negara kafir. Kaum Muslim wajib menolong mereka. Sebab, kaum Muslim itu bersaudara, laksana satu tubuh. Karena itu, serangan atas sebagian kaum Muslim pada hakikatnya merupakan serangan terhadap seluruh kaum Muslim di seluruh dunia. Karena itu pula, upaya membela kaum Muslim di Afganistan, Irak, atau Palestina, misalnya, merupakan kewajiban kaum Muslim di seluruh dunia. (Lihat, antara lain: QS al-Anfal [8]: 72). Kedua: Jihad ofensif, yakni memulai perang. Jihad ini dilakukan manakala dakwah Islam yang dilakukan oleh Islam dihadang oleh penguasa kafir dengan kekuatan fisik mereka. Dakwah adalah seruan pemikiran, non-fisik. Manakala dihalangi secara fisik, wajib kaum Muslim berjihad untuk melindungi dakwah dan menghilangkan halangan-halangan fisik yang ada di hadapannya. Inilah pula yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dan para Sahabat setelah mereka berhasil mendirikan Daulah Islam di Madinah. Mereka tidak pernah berhenti berjihad (berperang) dalam rangka menghilangkan halangan-halangan fisik demi tersebarluaskannya dakwah Islam dan demi tegaknya kalimat-kalimat Allah. Dengan jihad ofensif itulah Islam tersebar ke seluruh dunia dan wilayah kekuasaan Islam pun semakin meluas, menguasai berbagai belahan dunia. Ini adalah fakta sejarah yang tidak bisa dibantah. Bahkan jihad (perang) merupakan metode Islam dalam penyebaran dakwah Islam oleh negara Terorisme Bukan Jihad Dari penjelasan mengenai adab berjihad di atas, jelas sekali bahwa tindakan terorisme (seperti melakukan berbagai peledakan bom ataupun bom bunuh diri bukan dalam wilayah perang, seperti di Indonesia) bukanlah termasuk jihad fi sabilillah. Alasannya: (1) Tindakan tersebut dilakukan bukan dalam wilayah perang; (2) Tindakan tersebut nyata-nyata telah mengorbankan banyak orang yang seharusnya tidak boleh dibunuh. Tindakan ini haram dan termasuk dosa besar (QS al-Isra' [17]: 33; QS. an-Nisa’ [4]: 93; QS an-Nisa' [4]: 29). Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb. *) Staf Pengajar Bahasa Jepang SMA Muhammadiyah 4 Surabaya

Posted on 10.37
Anda Sedang Sakit yang parah. Belum menemukan obatnya. Kini saatnya beralih melalui pnegobatan Alami dengan Propolis Diamond. Obat ini bersal dari air liur lebah. Selain untuk obat juga dapat dikonsumsi sebagai suplemen. Insya Allah bermanfaat. Harga per botol 125.000. Ingat!! Kesehatan Anda lebih berharga dari segalanya. Pemesanan hubungi Hanif Kristianto Jl.Lidah Wetan gg.X/ Lakarsantri Surabaya telepon 085232584742

SKI Kabuki Bhs Jepang Unesa

Posted on 20.42 In:
Perang Badar Kehidupan Rasulullah merupakan cerminan kehidupan yang sempurna. Akhlak yang mulia, kepala Negara yang bijaksana, dan nabi penuntun umat yang mulia. Masa-masa dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah tidak terlepas dari kehidupan susah dan senang. Begitulah dakwah Rasulullah yang menjadi teladan kita dalam berdakwah. Kehidupan Rasulullah adalah kehidupan dakwah. Sejarah mencatat Islam dengan tinta emas. Keluhuran Rasulullah dan juga kekuatan pasukan perangnya. Pasukan perang yang dipimpin Rasulullah mampu menggetarkan musuh-musuh Allah. Selama kehidupan Rasulullah terjadi beberapa peperangan. Rasullullah terlibat dalam 70 kali peperangan. Salah satunya Perang Badar. Penyebab Peristiwa Badar ini adalah sebagai berikut: Rasulullah saw. mendengar bahwa Abu Sufyan bin Harb kembali dari Syam bersama kafilah dagang Quraisy yang mengangkut hasil perniagaan yang sangat banyak milik orang-orang Quraisy. Kafilah dagang Abu Sufyan terdiri dari 30 atau 40 orang Quraisy. Sama dengan strategi yang dijalankan dalam ekspedisi militer sebelumnya, saat ini pun Rasul saw. bermaksud untuk mencegat kafilah dagang Quraisy itu. Beliau mengajak kaum Muslim keluar. Kaum Muslim menyambut ajakan Rasulullah saw. Rasulullah saw. keluar dari Madinah bersama sahabat-sahabatnya setelah bulan Ramadhan berjalan beberapa malam. Beliau keluar dari Madinah pada hari Senin, tanggal 8 Ramadhan. Pelajaran 1:kesedian para sahabat berkorban Di dalam perjalanannya, Rasulullah saw. memperoleh informasi mengenai keberangkatan orang-orang Quraisy untuk melindungi unta-unta dan harta perniagaan mereka. Itu dilakukan setelah Abu Sufyan mengirimkan kurir untuk mengabarkan keadaannya kepada penduduk Makkah. Rasulullah saw. meminta pendapat dari para sahabatnya. Abu Bakar berdiri dan berkata (menyampaikan pendapatnya) dengan baik. Umar bin Khaththab juga berdiri dan berkata (menyampaikan pendapatnya) dengan baik. Miqdad bin Amr berdiri dan berkata, "Wahai Rasulullah, teruslah berjalan seperti yang diperlihatkan Allah kepadamu, karena sesungguhnya kami turut serta bersamamu. Demi Allah, kami tidak akan berkata kepadamu sebagaimana yang dikatakan Bani Israel kepada Musa, 'Pergilah engkau dan Tuhanmu, berperanglah, sesungguhnya kami duduk-duduk (saja) di sini (QS al-Maidah [5]: 24). Namun, (kami akan berkata), 'Pergilah engkau dan Tuhanmu berperang. Sesungguhnya kami turut serta berperang bersamamu dan bersama Allah.'" Umair bin Abi Waqash, adik Sa‘ad bin Abi Waqash, saat Perang Badar, ia—yang baru berusia 16 tahun—berusaha menyelinap diam-diam ke barisan pasukan kaum Muslim untuk ikut berperang. Ia takut dipulangkan oleh Rasul karena usianya yang masih terlalu muda. Namun, ketika Rasul tahu keinginan dan semangatnya, beliau pun mengizinkannya. Umair pun dengan gembira segera berlari menuju medan perang hingga terbunuh sebagai syahid. (HR al-Hakim dan Ibn Sa‘ad). Pelajaran 2: Strategis Rasulullah saw. dan pasukannya terlebih dulu sampai di Badar(tempat antara Makkah dan Madinah), dan memanfaatkannya dengan membangun markas, mengatur strategi perang—jika perang terjadi di tempat itu, dan mengatur posisi pasukannya hingga pasukan musuh datang Pelajaran 3:Yakin pada janji dan pertolongan Allah Rentetan permintaan tersebut, Quraisy telah keluar dengan bilangan kira-kira 1000 orang tentera. Antaranya 600 orang tentera berbaju perisai, 100 ekor kuda yang dipakaikan 100 baju perisai. Ini tidak termasuk baju perisai tentera pejalan kaki dan 700 ekor unta. Mereka turut membawa penyanyi-penyanyi perempuan yang memukul gendang dan menyanyi mengutuk orang Islam. Adapun kaum muslim 313 atau 314 orang. Kebanyakan mereka golongan Ansor. Mereka membawa 70 ekor unta dan dua atau tiga ekor kuda saja. Mereka bergiliran menaiki unta. Satu kendaraan dinaiki oelh dua hingga tiga orang. Sehingga tidak dapat dibedakan antara tentara dan pemimpinnya. Bahkan Rasulullah bergantian dengan Abu Bakar, Umar dan sahabat Lainnya. Perang Badar akhirnya pecah pada hari Jumat, pagi hari tanggal 17 Ramadhan. Rasulullah saw. memohon kepada Allah Swt., meminta pertolongan yang dijanjikan kepadanya. Dalam doanya Rasulullah saw. berkata, "Ya Allah, apabila Engkau membinasakan kelompok ini (yakni para sahabat) pada hari ini, maka Engkau tidak akan disembah." Dan sesungguhnya Allah telah menolong kamu mencapai kemenangan dalam peperangan Badar, sedang kamu berkeadaan lemah (kerana kamu sedikit bilangannya dan kekurangan alat perang). Oleh itu bertaqwalah kamu kepada Allah, supaya kamu bersyukur (akan kemenangan itu). (Ingatlah wahai Muhammad) ketika engkau berkata kepada orang-orang yang beriman (untuk menguatkan semangat mereka): "Tidakkah cukup bagi kamu, bahawa Allah membantu kamu dengan 3,000 tentera dari malaikat yang diturunkan ?," Bahkan (mencukupi. Dalam pada itu) jika kamu bersabar dan bertaqwa, dan mereka (musuh) datang menyerang kamu dengan serta-merta, nescaya Allah membantu kamu dengan 5,000 malaikat yang bertanda masing-masing. Dan Allah tidak menjadikan bantuan tentera malaikat itu melainkan kerana memberi khabar gembira kepada kamu, dan supaya kamu tenteram dengan bantuan itu. Dan (ingatlah bahawa) pertolongan yang membawa kemenangan itu hanya dari Allah Yang Maha kuasa, lagi Maha Bijaksana. (Kemenangan Badar itu) kerana Allah hendak membinasakan satu golongan dari orang-orang kafir atau menghina mereka (dengan kekalahan), supaya mereka kembali dengan hampa kecewa. (All Imran: 123-127) Pelajaran 4: Islam pasti menang Kaum muslimin semakin mengganas dan mengobarkan perang dengan gemuruh. Udara memanas dan peperangan menjadi lebih dahsyat. Keadaan tersebut menjadikan pemuka kafir Quraisy harus mempertahankan dirinya sendiri. Sementara kaum muslim bertambah imannya dengan meneriakan ahad….ahad. Rasul selalu berada di tengah-tengah mereka dan mengambil segenggam pasir lalu melemparkan kea rah kafir Quraisy seraya mengucaokan “Terhinalah wajah-wajahnya!” sementara para sahabat mengucapkan “bertahanlah kalian!” semangat tersebut mengalahkan kafir Quraisy, meraka lari tunggang langgang, sebagian terbunuh dan tertawan. Hal tersebu menjadikan bahwa kaum muslim berada dalam kemenangan. Pelajaran 5:Sikap agung terhadap tawanan perang Rasul berwasiat agar berbuat baik pada tawanan. Cerita Abu Aziz bin Umair bahwa Aku ditawan di tengah keluarga Anshar sekembalinya dari Badar, jika tiba waktu makan siang ataupun makan malam mereka selalu memberikan aku sepotong roti sedang mereka terpaksa makan kurma karena mereka dipesan nabi untuk berlaku baik terhadap kami kaum tawanan. Setiap mereka mempunyai sepotong roti mereka selalu memberikan kepadaku sehingga aku merasa malu atas perlakuan mereka dan roti itu pun aku kembalikan pada mereka. Dan roti itu pun tetap dikembalikan kepadaku untuk kumakan. Khatimah Beberapa pelajaran tersebut menunjukkan bahwa perjuangan dalam menegakan Islam tidaklah mudah. Butuh usaha keras dengan kerja ikhlas, kerja cerdas, dan kerja strategis. Rasulullah tidak hanya sebagai nabi tapi juga sebagai kepala Negara ketika itu memberikan contoh kepada umatnya untuk berbuat sesuatu. Sudah selayaknya siapa saja yang mengaku sebagai pengikut Rasulullah maka harus mengikuti apa yang diperintahkan dan dijalankan. Kekuatan iman yang dimiliki kaum muslimin merupakan pendorong untuk senantiasa taat pada aturan Allah. Keimanan menunjukan bahwa ia mau diatur dengan hukum-hukum Allah (Syariat Islam). Selain itu, adanya idrak silla billah (kesadaran hubungan dengan Allah) akan semakin mengokohkan langkah kita dalam beramal dan menjemput janji Allah. Kekuatan keimanan telah dibuktikan oleh para sahabat dan kita pun dapat mewujudkannya sekarang. Usaha yang ditempuh yakni dengan dakwah Islam. Jangan ragu bila jumlah kalian masih sedikit. Jika kita yakin dan didorong oleh keimanan kita, insya Allah pertolongan Allah begitu dekat. Sehingga kita menjadi orang yang mulia ketika hidup di bawah naungan Islam. Hidup mulia atau syahid di jalan-Nya. wallahu ‘alam bisshawab Akhukum fillah_ Hanif